
![]() |
| Pertambangan Aspal Buton (Foto: FB. Iwan Kartono)/CATATAN SULTRA. |
CATATAN SULTRA - Akhir-akhir ini ada segelintir orang, yang dengan gagah mengatasnamakan Putra Daerah Buton lalu membuat statemen, surat terbuka, vlog dan lain-lain, hanya untuk bersuara tentang Aspal Panas Buton.
Yang saya amati, orang-orang ini ada yang dari kalangan mantan birokrat, politisi, dosen, ada juga sebagian pengangguran kelas kakap yang sudah lama menanti hadirnya lapangan kerja.
Keluhan mereka rata-rata: kenapa Pemerintah Pusat tidak membangun industri aspal di Pulau Buton, mana janji presiden tentang hilirisasi, mana Jokowi yang dulu sempat berkunjung di Buton dan ingin menghidupkan pabrik aspal di Buton.
Namun semua keluhan dan pernyataan tegas dari putra-putra Buton itu tidak menghentikan langkah pemerintah membangun berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN), yang salah satunya fasilitas produksi aspal Buton akan di bangun di Karawang, Jawa Barat.
Sebagai orang Buton yang tinggal di atas pulau yang hanya memiliki luas 4.408 km², ini menjadi kabar baik untuk kita semua yang ingin pulau kecil ini tetap terjaga dari berbagai aktivitas kerusakan alam yang ditimbulkan dari keserakahan segelintir pemain tambang, elit dan pejabat.
Kita sama-sama paham, bahwa di tengah sulitnya akses lapangan kerja saat ini, kita sangat butuh ruang industri itu tumbuh dekat dengan kita. Tetapi disaat bersamaan kita juga harus sadar, bahwa kerap kali pembangunan industri ekstraktif seperti ini sangat merugikan keberlangsungan hidup semua makhluk di dalam pulau kecil ini.
Alam (ekosistem) di Pulau Buton ini gak begitu luas, sayang kalau kita pengen menantikan pembangunan industri aspal hanya karena alasan membuka akses lapangan kerja, serta adanya input anggaran untuk kemajuan suatu daerah.
Ketersediaan lahan di Pulau Buton hampir gak ada ruang untuk industri skala besar dan massif. Saat ini pemukiman sudah mengekspansi hampir disetiap sudut pulau. Masyarakat sangat menggantungkan hidup dari sumber daya alam (perkebunan, pertanian dan perikanan). Di sisi lain, hutan-hutan primer yang ada menjadi sumber oksigen dan rumah bagi berbagai spesies serta hewan endemik yang perlu kita jaga bersama.
Kita pengen rakyat Buton itu sejahtera, dan pembangunannya bisa lebih maju dari daerah lain. Sayangnya pemimpin yang kita pilih setiap musim Pilkada itu selalu gagal menghadirkan perubahan di tanah air kita.
Berhentilah beromantisme kejayaan aspal di masa lalu, yang semua kekayaan sumber daya alam kita itu justru dinikmati para kolonialisme. Berhentilah kita melihat bahwa berbagai industri pertambangan yang kelak di bangun itu akan membawa berkah bagi masyarakat, justru para elit, para politisi dan sekelompok orang yang ingin mengeruk kekayaan kita lalu mereka meninggalkan banyak kerusakan dan kemiskinan di daerah.
Narasi ini bukan surat terbuka, bukan dongeng di musim salju. Saya mencoba mengungkap sebuah fakta-fakta, yang di banyak daerah sudah merasakan akibatnya karena hadirnya industri pertambangan.
Kalau kita ingin lapangan kerja itu ada, kenapa anak-anak muda Buton tidak bersuara menuntut Pemdanya masing-masing untuk membuka industri kreatif yang lebih menjanjikan di masa depan. Sekarang era digital lho, harus upgrade diri anak muda. Kita tidak lagi disuruh kerja gali-gali tanah seperti zaman Purba. Ini era baru. Cara pikir lho harus berubah.***



