
![]() |
| Ilustrasi Pamflet Penolakan Hirilisasi Aspal Buton di Karawang (Desain AI)/MARHAENIST. |
Penulis: Amel Rumbia, Masyarakat Buton.
CATATAN SULTRA - Aspal Buton bukan sekadar komoditas tambang; ia adalah identitas dan urat nadi masa depan masyarakat Sulawesi Tenggara. Namun hari ini, kita dihadapkan pada kenyataan yang ironis: kekayaan alam yang dikeruk dari perut bumi Buton justru direncanakan untuk dibawa jauh ke Karawang hanya untuk diolah.
Kebijakan ini bukan hanya sebuah jarak geografis, melainkan jarak keadilan. Membiarkan aspal mentah keluar dari Buton tanpa pengelolaan di tanah asalnya adalah bentuk pemiskinan struktural yang nyata.
Mengapa Kita Harus Menolak?
Kehilangan Nilai Tambah Ekonomi: Jika pabrik pengolahan dibangun di Karawang, maka Buton hanya akan mendapatkan sisa-sisa debu dan kerusakan infrastruktur. Hilirisasi seharusnya terjadi di sini, di mana sumber daya itu berada, agar lapangan kerja dan perputaran uang tetap berada di tangan rakyat Buton.
Dampak Kerusakan Lingkungan: Proses mobilisasi aspal mentah dalam skala besar menuju luar pulau hanya akan mempercepat kerusakan jalan-jalan lokal dan pelabuhan kita tanpa adanya kompensasi pembangunan industri yang permanen di daerah.
Ketidakadilan Logistik: Membawa bahan baku ke tempat yang sangat jauh hanya akan meningkatkan biaya logistik nasional, padahal aspal Buton memiliki potensi untuk menjadi pusat industri aspal nasional jika dikelola secara mandiri di daerah.
Dampak Jika Aspal Buton Tidak Dikelola Sendiri
Jika kita terus membiarkan aspal Buton "diekspor" ke luar daerah tanpa adanya pabrik pengolahan di negeri sendiri, maka dampak jangka panjangnya sangat fatal:
Ketergantungan Aspal Impor: Ironisnya, Indonesia seringkali masih mengimpor aspal minyak. Jika aspal Buton tidak diproses dengan teknologi lokal yang kuat di Buton, kita akan terus terjebak dalam ketergantungan impor sementara kekayaan kita sendiri dikuras keluar.
Marginalisasi Tenaga Kerja Lokal: Putra-putri daerah hanya akan menjadi penonton atau buruh kasar di tanah kelahirannya, sementara posisi strategis di industri pengolahan dinikmati oleh daerah lain.
Matinya Potensi PAD: Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor industri akan menguap. Kita hanya mendapatkan pajak pertambangan yang kecil, sementara pajak industri yang lebih besar akan mengalir ke daerah di mana pabrik itu berdiri.
Pernyataan Sikap
"Kami tidak butuh janji pembangunan yang hanya lewat di depan mata. Kami butuh kedaulatan industri. Bangun pabriknya di Buton, kelola di Buton, dan biarkan aspal Buton menghitamkan jalan-jalan di seluruh nusantara sebagai simbol kebanggaan dan kesejahteraan masyarakat Buton, bukan hasil keringat yang dilarikan ke seberang lautan."***



